Siapa Pemakai Topeng Gajah Mada, Calon Penerus Jokowi?

Presiden RI Jokowi di Rakernas II PDI Perjuangan Desa Kuat, Indonesia Maju dan Berdaulat - 21 Juni 2022. (Foto: Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden) 

Foto: Presiden RI Jokowi di Rakernas II PDI Perjuangan Desa Kuat, Indonesia Maju dan Berdaulat – 21 Juni 2022. (Foto: Kris – Biro Pers Sekretariat Presiden)

Sebagai orang yang bukan jawa ‘asli’, saya tidak pernah percaya takhayul. Alasannya jelas, tidak pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Tapi, saat mendengar bahwa presiden Indonesia adalah dia yang bisa memiliki topeng Gajah Mada dari mulut langsung seorang bekas pejabat tinggi lembaga di bidang keuangan, pernah dalam sirkel inti partai penguasa, dan juga sosok lincah dan cerdas berpendidikan barat, ‘iman’ saya agak oleng dikit.

Baiknya saya tuliskan saja, runut sampai sosok yang paling berpeluang memakai topeng itu di 2024. Kata bekas pejabat itu, kepada saya, kerabat dekatnya pernah menyaksikan topeng itu dibawa dari Istana Tampak Siring Bali ke Jakarta untuk diserahkan kepada Letjen Soeharto sebelum menjadi Presiden pada tahun 1967. Ia tidak merinci apakah setelah Soeharto ada yang memakai ritual ini. Dia cuma menegaskan, beginilah Tanah Jawa, percaya tidak percaya, ada aura mistis yang meliputinya sejak leluhur Majapahit ke sana.

Cerita orang itu dibenarkan sejarawan JJ Rizal yang pernah mengatakan di media, pada 1965 Pak Harto mengirim orang ke Bali secara khusus untuk mengambil topeng Gajah Mada.

Tidak tahu juga, apakah mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki topeng itu saat menjabat presiden 2004. Namun, pada sebuah acara internal Partai Demokrat akhir Februari 2018 di Jawa Timur, SBY mengaku dalam pidatonya bahwa keluarganya adalah keturunan langsung pemimpin Majapahit. Runutanya, dari eyang SBY, Ki Ageng Buwono Keling hingga ke kedua anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono adalah trah ke-14. Ini mungkin menjawab kenapa cucu-cucu SBY semuanya memakai nama-nama petinggi Majapahit.

Gajah Mada yang lahir 1290 – wafat 1364 adalah seorang panglima perang dan mahapatih yang merupakan tokoh sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Ia menjadi Mahapatih atau Menteri Besar pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi atau Perdana Menteri yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Dialah yang membuat Sumpah Palapa dalam kitab Pararaton, bahwa tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara.

Topeng Gajah Mada ini kini dipuja di Puri Ageng Blahbatuh, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar , Bali. Banyak warga kesana untuk mendapatkan tuah kemampuannya menyelesaikan persoalan hidup.

Makin ke sini makin kabur. Tidak jelas hubungan Presiden Joko Widodo dengan Majapahit, apalagi Topeng Gajah Mada. Tapi, Jokowi yang lahir pada 21 Juni 1961 hari Rabu memiliki weton Pon. Weton adalah semacam horoskop Jawa, zodiak pada tradisi barat, Feng Shui di China. Nah, tidak tau kenapa, Jokowi sering mengeluarkan keputusan penting pada hari Rabu.

Perombakan kabinet pertamanya pada Rabu Pon, 12 Agustus 2015. Setahun kemudian, reshufflekabinet kembali terjadi pada Rabu Pon, 27 Juli 2016. Lalu, pada 17 Januari 2018, dia kembali merombak kabinetnya. Namun, saat itu bukan Rabu Pon, melainkan Rabu Pahing. Perombakan kabinet kembali terjadi pada Rabu Pahing, 15 Agustus 2018.

But the unthinkable idea is Jokowi mungkin tidak menyimpan Topeng Gajah Mada fisik seperti Soeharto. Tapi dia memilikinya Gajah Madanya versi sendiri, yaitu Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sosok kunci. Kisah sedihnya memang, setelah perang bubat, hubungan Gajah Mada dan sang Raja Hayam Wuruk memburuk.

It’s All About Ganjar vs Anies

Ini asumsinya gotak-gatik-gatuk, seperti kisah Topeng Gajah Mada itu. Akan ada empat calon pasangan RI-1/2 pada Pemilu 2024, dan penentuan pemenangnya ditentukan lewat putaran kedua. Pertama, Ganjar Pranowo-Puan Maharani, Anies-Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono, Prabowo Subianto-Erick Thohir dan Airlangga Hartarto-Ridwan Kamil.

https://datawrapper.dwcdn.net/lnE2T/1/Minus Anies-AHY, sebenarnya ketiga kontestan di atas adalah All Jokowi’s Final. Semuanya memiliki keterkaitan dengan Jokowi, namun peluang paling besar tentu Ganjar-Puan, sebab suara ‘die hard’ Jokowi seperti Denny Siregar Cs, dan partai pendukung pemerintah, seperti PAN yang ia rangkul di kabinet belakangan ini akan disalurkan kesana apalagi si ‘rambut putih’ Ganjar adalah anak emas Jokowi. Hal yang susah diingkari.

Keberadaan Anies-AHY adalah game changer, dan bahkan ia bisa menjadi kejutan. Keduanya lah yang berhak memakai Topeng Gajah Mada. Peta politik 2024 mirip tahun politik 1999, dimana tidak dinyana PDI-Perjuangan yang menguasai parlemen gagal menjadikan Megawati sebagai presiden, akibat manuver poros tengah yang digagas Amien Rais menjelang pemilihan. Hal yang sama juga terjadi saat ini, dimana PDI-Perjuangan plus suara Jokowi dan pengikutnya mendominasi kontestasi.

Tinggal sebetulnya, Partai Nasdem keluar dari kabinet, menjadi oposisi dan Anies meniru langkah SBY yang sampai mendirikan Partai Demokrat untuk menentang dominasi PDI-Perjuangan dan Megawati pada Pemilu 2004. Anies dan Nasdem tinggal memainkan isu dizalimi, dijegal sana-sini oleh Jokowi untuk meraih simpati publik. Ini ampuh, bahwa perlu antitesa dalam proses suksesi politik di Indonesia, dan dimanapun termasuk sejarah-sejarah politik dunia.

Drama politik di Indonesia selalu memiliki genre yang sama sejak penggulingan Presiden Soekarno oleh Soeharto via Supersemar. Abdurrahman Wahid adalah sosok pro demokrasi yang bertahun-tahun ditekan Soeharto. Megawati mendapat dukungan kuat dan legitimasi menggeser Gus Dur karena sempat dizalimi oleh poros tengah.

Demikian pula SBY yang sangat cerdas mengkapitalisasi dukungan sebagai menteri pecatan Megawati menjelang Pilpres 2004. Hal yang sama, dialami Jokowi yang seolah tak dilirik oleh SBY yang memiliki kesan kuat memilih Prabowo daripada dirinya pada 2014. Hal yang sama dialami Anies yang dipecat Jokowi tak lama setelah menjadi menteri pendidikan.

Sementara pasangan Ganjar-Puan adalah win-win solution bagi PDI-Perjuangan. Asumsinya begini, Megawati sedang berupaya membujuk Puan untuk mau mengurungkan keinginan menjadi presiden. Ini akan menyelamatkan partai dari tampuk kekuasaan politik, sebab bila anak kesayangan ini maju bisa jadi PDI-Perjuangan kehilangan trah istana. Lagi pula sangat sulit menjadi presiden perempuan di Indonesia dengan kultur patriarki, adapun Megawati bisa karena kecelakaan politik.

Mengusung Ganjar adalah pilihan rasional agar suara ‘die hard’ Jokowi dan partai pendukung tetap mengalir ke PDI-Perjuangan, sembari menguatkan ikatan Jokowi di partai banteng moncong putih guna meraih suara kursi parlemen. Bagi Jokowi, ini adalah kemenangan telak sebab bisa menjamin kebijakan strategis seperti Ibu Kota Nusantara di Kalimantan tetap berjalan, atau mungkin mengamankan posisinya dari hukum setelah tidak menjabat bila ada yang tak beres. Sembari memberikan ruang untuk anak kesayangan, Gibran Rakabuming untuk tumbuh dan berkembang menjadi politisi handal.

Adapun Prabowo tetaplah ‘pilihan Jokowi’ setelah Ganjar dengan simbol kata ‘muka keriput’ sebagai orang yang pantas menjadi penggantinya. Bersama diksi ‘rambut putih’ untuk Ganjar, dan ‘tidak ada kerutan’ (berarti berkerut) untuk Prabowo yang disampaikan pada acara Relawan Jokowi di Gelora Bung Karno, Sabtu (26/11/2022).

Erick Thohir yang juga termasuk ‘orang Jokowi’ dan sampai saat ini belum mendapatkan tiket tentu pasangan yang ideal untuk Prabowo dibandingkan Muhaimin. Dugaan saya, akan ada kompromi politik, dimana sosok Erick diperlukan sebagai pemasok logistik koalisi Gerindra, sebagaimana Sandiaga Uno pada Pilpres 2019 dan sebagai balasannya PKB akan mendapatkan jatah kunci di kabinet dan benefit lainnya.

Pada level receh, Jokowi sendiri sudah menempatkan pasukan-pasukan ‘die hard’ dengan memecah grub Abu Janda atau Permadi Arya, selebritis medsos yang kini merapat ke Prabowo. Tentu itu bukan pilihan Abu Janda, tetapi pilihan kakak pembina. Prabowo-Erick adalah ban serep yang tampaknya disiapkan Jokowi apabila Megawati gagal merayu Puan. Sebagai politisi, Jokowi lebih pragmatis mengingat dia adalah juga seorang pengusaha. Sebab, pada umumnya, pengusaha selalu mengambil posisi mendua, men-tiga dan banyak lagi dalam politik.

Meskipun skenario ini kemungkinan kecil terjadi, sebab Jokowi sudah mengakomodir keinginan Megawati saat Pilpres 2019 dengan memilih Amin Ma’ruf sebagai wakil presiden daripada pilihannya Mahfud MD. Ini adalah sinyal bahwa Megawati pada waktu itu mungkin sudah mengantisipasi, bila Ma’ruf yang maju, maka tidak mungkin ada ambisi saingan baru bagi Puan di Februari 2024, mengingat sang kiai tidak mungkin akan maju menjadi capres nanti, beda rasanya bila Mahfud yang dipilih.

Sementara itu, masa depan Airlangga-RK tampak suram. Meskipun suara mereka lumayan besar, namun penentuan tiket Capres justru berada ditangan PPP dan PAN yang saat ini merupakan partai pendukung pemerintah. Suara kedua partai ini boleh dibilang ‘dipegang’ Jokowi, dan memang bisa saja dibiarkan memilih Golkar sebagai skenario cadangan ketiganya, setelah pahe koalisi Gerindra Cs.

Namun bukan berarti posisinya tidak strategis dan tidak penting. Justru dalam skenario dua putaran, posisi koalisi yang dipimpin Partai Golkar bisa menentukan siapa Presiden pengganti Jokowi. Bagi mereka, menurut saya, hal ini sudah dipikirkan, dan tujuan Airlangga maju memang bukan murni jadi Presiden, namun mempertahankan posisi tawar besar dalam kabinet ke depan. Dalam bahasa mudahnya sudah ada ‘kesepakatan’ antara Airlangga dan Jokowi tentang skenario ini, tetap diberi ‘angin’ tetapi bukan pilihan utama.

Saat Jokowi memberikan pernyataan jelas saat memberikan sambutan dalam acara HUT ke-58 Partai Golkar. Oktober silam. Jokowi menganalogikan pemilihan presiden dan wakil presiden itu seperti sebuah perusahaan airlines memilih pilot dan co-pilot. Oleh sebab itu, Jokowi meminta dalam memilih calon pemimpin negara ini tidak boleh sembarangan. “Betul-betul pemimpin ke depan yang harus kita pilih, yang memiliki jam terbang yang tinggi. Salah satu yang saya lihat itu adalah Pak Airlangga Hartarto,” kata Jokowi.

Jadi ibarat kaki, Golkar ini adalah tempat ketiga dimana Jokowi menempatkan kakinya, setelah Gerindra dan tentu saja PDI-Perjuangan. Begitulah sosok Jokowi. Ada saja yang menganggapnya itu sebagai topeng munafik, pragmatis, dan apalah. Tapi dalam perspektif positif itu adalah bentuk aktualisasi filosofi political accommodative, macam keputusan Jokowi lebih memilih mengikuti Megawati untuk memilih Ma’ruf Amin yang lebih merepresentasikan kelompok 212 daripada Mahfud MD, agar perpecahan arus bawah diakhiri. Demi apa, demi keutuhan bangsa, seperti juga Gus Dur membubarkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 soal PKI guna merekonsiliasi sejarah dan menatap Indonesia baru.

Tanpa perlu menguasai istana, posisi Golkar strategis sebagai cushion politik yang merekatkan segregasi tajam antar partai, sehingga dalam bahasa sehari-hari dapat dikatakan sebagai, ya sudahlah, mau siapapun presidennya yang penting semua senang. Atau sebuah kalimat yang pernah disebutkan seorang pengusaha papan atas dan di iyakan petinggi Golkar dulu; “Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yang bagus, representative. Apalagi?,” . Ini adalah transkrip asli percakapan privat yang sangat populer pada masanya, dan ini bukan hinaan, tapi sanjungan. Bukankah all we do is just for pursuing of happiness, dan karena Indonesia masih negara low middle income, mayoritas kebahagiaan datang dari perut kenyang.

Pada akhirnya, king maker dalam kontestasi politik 2024 pertama adalah Megawati dan kedua adalah Jokowi. Ada pendatang baru, kuda hitam yang memiliki potensi kuat, merobohkan dominasi PDI-Perjuangan, Gerindra dan Golkar. Yakni Anies Rasyid Baswedan, sosok kalem, berpendidikan barat tapi bermindset kearifan lokal, memiliki ambisi besar dan retorika yang baik.

Ia sekarang masih pada level prince maker as a puppet atau ‘pegawai kontrak partai-partai’, seperti Jokowi yang petugas PDI-Perjuangan, but soon setelah blendingdengan kekuatan politik dan ekonomi di belakangnya bisa menjadi pemimpin masa depan. Tiga kekuatan dan sosok politik yang di belakang Anies saat ini adalah Surya Paloh, SBY, dan Jusuf Kalla. Ini yang tampaknya menjadi alasan Jusuf Kalla memberikan back-uppenuh padanya bahkan sejak mencalonkan diri jadi Gubernur DKI.

Itulah mengapa, nampaknya, Jokowi enggan memecat Partai Nasdem dari kabinet, tarik-ulur dengan koalisi pendukung pemerintah, sejak Nasdem mendeklarasikan Anies sebagai calon presiden. Ia seperti belajar dari Megawati yang pernah memecat SBY, dan malah menjadikan blunder politik paling hebat dalam sejarah panggung politik Indonesia. Pemandangan baru-baru ini dimana Jokowi mengantar Surya Paloh keluar halaman istana setelah temu empat mata, nampak bukti bahwa ia sedang mengoreksi sikap acuhnya pada konglomerat media itu sesaat setelah deklarasi Anies sebagai Capres Nasdem. Singkat kata, ini upaya Jokowi kembali menahan tiket Capres Anies.

Jokowi jelas https://documentsemua.com tidak mau tragedi SBY vs Megawati terulang. Merusak, upaya sistematis meredam kekuatan Anies yang tercium sejak ia menjadi Menteri Pendidikan. Padahal cara paling mudah untuk menahan sementara waktu Anies adalah dengan kembali merangkul Nasdem, dan bagi Surya Paloh ini adalah durian runtuh baginya. Kalaupun Anies hendak maendi pentas utama politik, lawan mainnya bukan dia, tetapi anaknya Jokowi; Gibran dan itu nanti, 2028 atau 2032. Jokowi sedang mengkonsolidasikan trahnya lewat trio; Gibran, Bobby dan Kaesang.

Jadi ending story untuk topeng Gajah Mada adalah begini. Empat paket hemat kontestan itu-atau bahkan cuma tiga bila PPP dan PAN jual mahal harga tiket pada Golkar-akan berlaga pada putaran pertama dan melahirkan dua pemenang Ganjar-Puan dan Anies-AHY. Lalu, kongsi Prabowo-Erick dan Airlangga-RK akan pecah pada putaran kedua.

Gerindra akan merapat ke PDI-Perjuangan, sementara Golkar memilih untuk membiarkan para penghuni beringin menyebar, demikian pula partai-partai medioker, memilih kanan kiri. Siapa pemakai topeng? Silahkan teruskan sendiri, kalau saya menduga akan ada kejutan seperti 1999! Kecuali Surya Paloh berubah pikiran setelah pertemuan di istana beberapa waktu lalu. Salam Demokrasi Damai Pancasila. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*