Digital Savviness dan Geliat Pertumbuhan Bisnis Tanpa Batas

Business concept with copy space. Office desk table with pen focus and analysis chart, computer, notebook, cup of coffee on desk.Vintage tone Retro filter, selective focus. (Freepik) 

Foto: Ilustrasi

Bagi penikmat serial Game of Thrones, pasti mengenal sosok Daenerys Targaryen. Seorang putri yang terbuang namun pada akhirnya menasbihkan seluruh hidupnya untuk merebut kembali tahta yang ditinggalkan oleh ayahnya. Daenerys digambarkan sebagai wanita yang tangguh, cerdas, dan lihai dalam berpolitik. Namun, keterasingannya dengan tanah kelahiran membuatnya kesulitan untuk bermanuver di tengah intrik politik yang terjadi. Hingga akhirnya muncul sosok Jon Snow, seorang pendekar yang idealis namun juga paham tentang politik. Dari Jon Snow lah, Daenerys bisa memahami konteks politik di Westeros, tanah kelahirannya, hingga akhirnya bisa menyingkirkan semua pesaingnya.

Konteks ini mungkin cukup relevan untuk dijadikan inspirasi guna meraup sukses di dunia bisnis, khususnya di tengah semangat digitalisasi dan juga perkembangan ekonomi digital yang semakin masif di Indonesia. Komunitas usaha, baik yang sudah lama berdiri maupun yang baru, dituntut untuk memahami lansekap makro dari perkembangan ekonomi digital di dalam negeri. Namun, bagaimana caranya? Apakah kita bisa melakukannya sendiri? Atau kita butuh seorang Jon Snow untuk bisa berhasil?

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami kebutuhan dari pasar saat ini. Menurut data dari Google, Bain & Co, dan Temasek dalam sebuah laporan tahunan berjudul e-Conomy SEA 2021, disebutkan bahwa selama pandemi COVID-19, sudah ada 21 juta konsumen digital baru di Indonesia, sebanyak 96% dari mereka masih menggunakan layanan digital, dan 99% mengatakan mereka akan melanjutkan penggunaan.

Indonesia seketika menjadi tujuan favorit investasi di Asia Tenggara, melampaui Singapura. Terlepas dari tingginya volatilitas pasar, pendanaan tetap mengalir buat entitas bisnis di Indonesia dikarenakan masifnya adopsi digital di sektor-sektor unggulan seperti e-commerce, fintech, healthtech dan edutech.

Pada saat laporan ini dirilis, nilai dari ekonomi internet Indonesia ditaksir mencapai US$ 70 miliar, dengan tren yang semakin menunjukkan peningkatan. Adopsi dari berbagai teknologi yang mendukung ekosistem ini, seperti pemasaran digital, layanan website, digital analytics, perangkat lunak, cloud storage, dan collaboration software juga diprediksi akan semakin masif dalam lima tahun ke depan.

Tentunya, entitas bisnis manapun tidak akan tinggal diam melihat perkembangan ini. Lambat laun, semua pihak akan dituntut untuk bersaing terutama dalam mencari product-market fit dan menjaga keberlanjutan bisnis, terlebih untuk meningkatkan nilai dari bisnis itu sendiri. Mengutip pemikiran dari seorang pembicara terkenal Simon Sinek, bahwa ada dua tipe permainan yang harus kita ikuti di dunia ini, yakni finite games dan infinite games.

Finite games, seperti sepak bola, dimainkan dengan tujuan untuk mencapai akhir dari permainan tersebut dan menang, dengan mengikuti aturan yang statis. Setiap permainan mempunyai tahap atau bagian, dan pemenangnya dapat dengan mudah ditentukan berdasarkan hasil yang diperoleh.

Sedangkan infinite games, seperti bisnis ataupun politik, dimainkan dengan tujuan untuk tetap dapat bermain terus-menerus daripada hanya sekedar menang. Sinek berpendapat bahwa entitas yang menganut paham infinite games akan berorientasi kepada bagaimana membangun organisasi yang kuat, inovatif, dan resilient untuk mencapai tujuan jangka panjang.

Sayangnya, dewasa ini banyak founders yang belum bisa mendefinisikan tujuannya ketika memulai sebuah bisnis. Banyak yang masih fokus untuk mencapai hyper growth, mencari pendanaan dengan cepat sembari membakar uang dengan instan tanpa memikirkan keberlanjutan dari bisnis tersebut.

Alhasil, banyak dari ide-ide cemerlang tersebut harus berhenti di tengah jalan lantaran tidak bisa menemukan model bisnis dan formula yang tepat. Yang lebih penting, ada pula yang cenderung untuk mengalienasi fakta di lapangan dan bersifat inward looking-lupa bahwa tak selamanya membangun bisnis itu tentang hyper growth dan enggan untuk berkolaborasi dalam peningkatan kapabilitas dan kapasitas mereka. Peningkatan nilai bisnis dikerucutkan dan berorientasi pada pendanaan. Padahal, banyak aspek dari peningkatan value yang bisa dicapai ketika merintis sebuah bisnis. Tak melulu soal uang.

Alangkah mubazir, jika lansekap makro ekonomi digital Indonesia sudah menunjukkan tren yang begitu baiknya, tapi para pelaku bisnis kita malah tidak bisa memanfaatkan momentum ini.

Agaknya sudah menjadi sebuah keharusan untuk pelaku bisnis, (khususnya yang masih berada di tahap awal dan ingin fokus ke digitalisasi) untuk menemukan cara yang tepat guna meningkatkan kapabilitasnya. Masalahnya, banyak bisnis yang tidak tahu cara mendapatkan kendaraan yang tepat untuk mengantarkan mereka. Kebanyakan early stage venture tidak berani untuk mengeksplorasi dan mengambil risiko untuk bertransformasi digital sebelum mendapatkan pendanaan yang masif.

Salah satu syarat untuk menemukan product-market fit memang dengan terus melakukan iterasi, dan iterasi tentu membutuhkan biaya. Namun, tidak ada salahnya jika kita berani mengambil sedikit risiko dan menjemput bola.

Saat mendirikan Upturn, sebuah platform akselerasi untuk ide-ide cemerlang dari para founders di Indonesia, saya dan rekan-rekan berangkat dari pemikiran ini. Bagaimana caranya menggali potensi – potensi di dalam negeri untuk ikut meramaikan dan mengembangkan ekonomi digital Indonesia dengan mendayagunakan resource yang mungkin masih sangat terbatas, namun bisa berdampak.

Sebagai sesama founders dan builders, http://makcauhai.com/ kami paham betul bagaimana terjalnya perjalanan membangun sebuah bisnis dari nol. Oleh karena itu, visi kami adalah membantu para founders yang lain agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini kami wujudkan melalui program akselerator untuk para early stage startup. Kami ingin membantu para pemilik ide dan eksekutornya dalam menciptakan produk yang market-driven yang bisa bertahan sampai jangka panjang.

Pada akhirnya, terlepas dari besar atau kecilnya sebuah entitas bisnis, tidak ada yang bisa berdiri sendiri dan mengandalkan perspektif inward looking dengan mengabaikan fakta di lapangan dan menolak untuk berkolaborasi. Dunia ini berkembang dengan cepat, masyarakat berkembang dengan cepat, dan solusi harus dikonsolidasikan dengan tak hanya cepat namun juga efektif. Dengan begitu, misi baik dari setiap individu yang ingin menciptakan perubahan melalui inovasi akan dapat tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*